search:
|
PinRec

3 Bahaya Minuman Kemasan, Obesitas Hingga Liver

ragil dwisetya utami/ Kamis, 11 Jul 2024 07:00 WIB
3 Bahaya Minuman Kemasan, Obesitas Hingga Liver

Apabila dikonsumsi secara berlebihan, minuman kemasan manis bisa berbahaya untuk kesehatan tubuh. Foto: Pinterest


PINUSI.COM - Sebagian individu mungkin menggemari minuman kemasan manis, karena terasa enak dan mudah dikonsumsi.

Padahal, apabila dikonsumsi secara berlebihan, minuman kemasan manis bisa berbahaya untuk kesehatan tubuh. 

Pada dasarnya, minuman kemasan manis mengandung gula dan kalori yang tinggi, sehingga berisiko memicu berbagai masalah kesehatan apabila dikonsumsi terlalu banyak.

Mengutip dari laman Siloam Hospital, berikut ini 3 bahaya minuman kemasan.

1. Meningkatkan risiko obesitas

Minuman kemasan manis umumnya mengandung fruktosa, yaitu jenis gula sederhana yang dicerna secara cepat dalam tubuh, sehingga sensasi kenyang yang dirasakan tidak bertahan lama.

Hal ini berpotensi membuat seseorang mengonsumsinya secara berlebihan, dan asupan kalori harian orang melebihi batas normal.

Konsumsi minuman kemasan manis berlebihan juga diduga berkaitan dengan resistensi hormon leptin, yaitu hormon yang berfungsi mengendalikan nafsu makan dengan memberi sinyal kenyang ke tubuh.

Resistensi leptin mengakibatkan penurunan kemampuan hormon leptin, sehingga membuat seseorang sering lapar dan ingin makan secara berlebihan. Hal inilah yang dapat meningkatkan risiko terjadinya obesitas.

2. Risiko Diabetes

Meningkatkan risiko diabetes juga menjadi salah satu bahaya minuman kemasan manis yang cukup sering terjadi.

Konsumsi minuman kemasan berpemanis dapat meningkatkan asupan fruktosa secara berlebihan, sehingga hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya resistensi hormon insulin. 

Sebuah penelitian oleh The Journal of Pediatrics membahas mengenai dampak dari mengonsumsi minuman dengan kandungan tinggi fruktosa, pada remaja berusia 12-16 tahun di Negara Taiwan.

Hasilnya, remaja yang mengonsumsi minuman kemasan berpemanis lebih banyak, akan mengalami peningkatan resistensi insulin.

Hormon insulin merupakan hormon yang bertugas mengendalikan kadar gula darah (glukosa) di dalam tubuh.

Ketika terjadi resistensi insulin, sel-sel tubuh tidak merespons insulin secara normal.

Akibatnya, glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel dengan mudah, sehingga menumpuk di dalam darah.

Hal ini pada akhirnya dapat menyebabkan penyakit diabetes.

3. Memicu liver

Proses metabolisme fruktosa melibatkan organ hati. Ketika jumlah fruktosa yang mencapai organ hati terlalu banyak, maka sisa fruktosa akan diolah menjadi lemak. 

Saat ada lemak berlebih yang tersimpan di dalam organ hati, maka hal ini dapat memicu kondisi bernama NAFLD (Nonalcoholic Fatty Liver Disease).

Jika NAFLD tidak ditangani dengan tepat, mala dapat berkomplikasi menjadi kerusakan jaringan hati, hingga gagal hati. (*)



Editor: Yaspen Martinus
Penulis: ragil dwisetya utami

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook