search:
|
PinNews

Tangkisan KPK Penggeledahan Rumah Crazy Rich Kaltim Beraroma Politis

Selasa, 18 Jun 2024 15:18 WIB
Tangkisan KPK Penggeledahan Rumah Crazy Rich Kaltim Beraroma Politis

Crazy Rich asal Kalimantan Timur, Said Amin. Foto via Instagram borneofc.id


PINUSI.COM, JAKARTA - Penggeledahan rumah Crazy Rich Kalimantan Timur, Said Amin dituding bermuatan politis. Ada dua sebab.   

Sebelum ke situ. KPK lebih dulu buka-bukaan ihwal penyebab mangkirnya Said Amin. Komisaris PT Core Energy Resource itu rupanya sedang sakit. 

"Ketidakhadiran Said Amin disertai dengan penyampaian keterangan bahwa yang bersangkutan sedang sakit," jelas Juru Bicara KPK, Tessa Mahardika menjawab pertanyaan jurnalis media ini, Selasa (18/6). 

Di mana alasan Said, kata dia, juga didukung dengan surat keterangan sakit. Untuk itu, penyidik akan menjadwalkan ulang pemanggilan saksi kepada pentolan organisasi Pemuda Pancasila itu. 

KPK menggeledah rumah Said Amin sepanjang pekan pertama bulan ini. Dari sana 104 motor dan mobil, serta jam tangan bernilai ratusan juta disita. Penyitaan terkait dugaan pencucian uang hasil gratifikasi Rita Widyasari.   

Lantas apa perkembangan terbaru kasus ini? Tessa memastikan penyidikan terus berjalan.  

"Penyidik masih melakukan tindakan untuk memperkuat unsur perkara tindak pidana dimaksud jadi semuanya masih berproses," jelas juru bicara berlatar polisi ini. 

Sejumlah pihak menduga kasus ini bermuatan politis. Ada dua sebab.  Pertama, momentum penggeledahan KPK berdekatan dengan Pilkada 2024. Kedua, rentang waktu KPK kembali membuka kasus Rita teramat panjang. Kali terakhir KPK menyidik kasus ini pada 2020 silam. 

Bagaimana soal ini? Tessa meyakinkan publik bahwa upaya KPK tidak bermuatan politis.

"Semua tindakan penyidikan yang dilakukan tidak dalam rangka unsur politik. Semata-mata hanya dalam kerangka pemenuhan unsur tindak pidana yang ditangani saja," pungkasnya. 

Biar tak lupa. Rita merupakan mantan bupati Kutai Kartanegara. Pada 2018 silam, Rita telah divonis 10 tahun penjara. Dia terbukti menerima gratifikasi total Rp110 miliar.

Bersama staf khususnya, Rita mengambil fee dari ragam proyek, perizinan serta pengadaan barang-jasa yang bersumber dari APBD Kukar. KPK kemudian menelisik dugaan pencucian uang hasil gratifikasi Rita. Saksi terakhir yang diperiksa KPK adalah Rita sendiri, medio 2020 silam. 

Kekinian, KPK menggeledah rumah bos batu bara Said Amin di Samarinda, Kalimantan Timur. Sampai Kamis (6/6), 104 motor dan mobil beragam merk, jam, dan dokumen disita. Mulai dari Lamborghini, Hammer, Rubicon, McLaren, sampai jam rolex.

KPK juga menyita tanah dan beragam bangunan dari enam lokasi. Serta uang senilai Rp6,7 miliar dan uang mata asing senilai kurang lebih Rp2 miliar.

Dimintai pendapatnya, Peneliti Pusat Studi Antikorupsi Universitas Mulawarman Herdiansah Hamzah mengapresiasi upaya KPK. Namun begitu ia terlanjur pesimis dengan KPK. 

"KPK sih saya sudah ilfil sejak revisi UU-nya. Rusak-serusaknya. Jadi tidak mengherankan kalau publik menuding KPK jadi alat penggebuk, terlebih menjelang pilkada," jelas Castro. 

Maksudnya, Castro mempertanyakan momentum KPK menggerebek rumah Said Amin. Sebab, ia mencatat kasus ini kali terakhir ditelisik oleh KPK pada empat tahun lalu. Rita sendiri menjadi saksi terakhir yang diperiksa.  

“Kenapa baru sekarang saat menjelang pilkada penggeledahan dilakukan,” kritik Castro.

Kedua, Castro melihat KPK terlalu vulgar dalam penggeledahan. Selaras dengan penelusuran media ini, Castro juga dengan mudah menemukan video-video penggeledahan di rumah Said Amin.

Penggeledahan kali ini jauh dari kesan operasi senyap KPK. Sangat mudah wajah-wajah penyidik KPK terekam sedang asyik membongkar brankas dan hilir mudik di rumah Said. 

“Ini jelas berisiko. Karena pihak lain yang terkait akan mudah melarikan diri dan menghapus jejak TPPU [pencucian uang],” jelasnya.

Di samping itu, penggeledahan terbuka semacam ini cenderung memiliki motif membangun citra diri. 

“Seperti hendak membangun public trust. Apalagi di tengah proses seleksi calon pimpinan KPK yang tengah berjalan,” jelasnya.

Namun kembali lagi. Castro tetap mengapresiasi. Ia mendorong KPK mengusut tuntas ke mana saja duit Rita disamarkan.

“KPK tidak boleh kalah apalagi takut dengan siapapun. Bahkan dengan iblis sekalipun," jelas Castro. 

"Jadi kalau ada dugaan kuat seseorang memiliki peran menampung atau menggunakan uang hasil kejahatan, ya harus dikejar,” jelasnya.



Editor: Fariz Fadhillah

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook